Suka duka menjadi seorang Prajurit TNI
Pada tanggal 02 Oktober 2004 awal saya di lantik menjadi seorang Prajurit TNI AD yang berdinas di satuan Tempur Yonif 125/Simbisa di daerah kaban Jahe kabupaten Tanah Karo dan pada saat itu kami awal dinas disambut dengan kondisi lagi bencana besar di Provinsi Aceh yaitu sunami dan pada saat itu juga satuan kami lagi melasksanakan Satgas pengamanan di Aceh dan kami sebagai Prajurit muda langsung diturunkan sebagai time relawan bencana aceh dan Sibolga dengan penuh semangat baru sebagai Prajurit muda kami sangat bangga dan senang di berangkatkan sebagai time relawan, pada bulan Maret tahun 2005 kami ikut seleksi Dik Raider dan kami terpilih dari satuan untuk ikut dan alhamdulilah kami berhasil lulus seleksi dan berangkat menjalani masa pendidikan Raider se Angkatan Darat menjadi satu (1) di pusdik Kopasus batu jajar selam 4,5 bulan dan kami lulus dan setelah itu pindah ke kesatuan baru Batalyon Raider 100/PS.
Sebagai Prajurit Infanteri berkemampuan Raider hari kami tidak lepas dari latihan dan latihan untuk selalu mengasah kemampuan kami sebagai Prajurit berkemampuan Khusus dan satuan Elit Kodam 1/BB kehidupan satuan Tempur Elite kami di satuan selalu saling berbagi ilmu antara senior dan junior pimpinan dan anggota dan yang pasti kami mempunyai jiwa korsa yang kuat antara sesama Prajurit 100/PS, selama di satuan tempur kami lebih banyak melakukan kegiatan yang aplikasi lapangan diluar satuan, pada tahun 2007 pertengahan tahun kami di uji jiwa laki -laki dan ketegaran seorang Prajurit dengan di panggilnya kembali ke pangkuan ALLAH Papa tercinta yang pada malam hari kelahiran kami Papa terakhir x nya menelfon dan itu terakhir mendengar suara beliau dengan memberikan nasehat dan motifasi beliau kepada saya; jaga kesehatan baik -baik berdinas dan selalu jaga dan bantu Mamak dan saudara kalau ada rezeki, dan esok sorenya kami di telfon kakak kami di tembilahan tempat papa berada pada saat itu beliau kesana berlibur sama adek kecil kami,papa gak sadarkan diri 40 menit setelah itu telfon lagi papa sudah pergi,hancur dan hilang menal seorang Prajurit Raider saya saat mendengar berita itu jauh dari keluarga yang di tinggal ke tempat dinas belum sempat bahagiakan papa udah pergi,
Pada tahun 2008 Alhamdulilah kami diberi jodoh dan menikah dengan pacar waktu msih sebelum jadi TNI AD yang dulu tak direstua keluarganya saya pulang pada akhir tahun dengan berstatus Prajurit TNI AD alhamdulilah kami datang meminang dan kami di terima singkat cerita kami pengantin baru kembali kekesatuan untuk menjalani rumah taga baru dengan kehidupan kami pada saat itu msih gaji bulanan kecil dan kami hidup sederhana sesuai gaji kami dan pada 2009 pada saat isteri hamil tua anak pertama kami dapat kesempatan ikut Satgas Indrapura ke singapura dan kami berangkat meninggalkan isteri dalam masa - masa persalinan tetapi anak kami tak mau bapaknya gak ada saatlahir jadi persalinan pas pada 1 hari kami kembali dari Singapura, pada tahun 2013 kami kembali dapat kehormatan berangkat tungas ke kalimantan Utara dan pada saat itu anak ke dua kami baru usia 1 thun dan inilah cerita orang - orang kalau tentara plang tugas anak- anak nya panggil oom dan gak kenal itu kami rasakan pada tahun 2014 pulang tugas kembali ke Batakyon anak ke 2 gak mau di gendong dan tak mau manggil Abi, tapi oom dan tak boleh tidur di kamar selama 4 hari dan harus di vc tiap hari selama 4 hari tersebut dan anak berkata abi di mana ada 'oom dirumah'he.he itulah yang cerita kami dengar dulu kami rasakan juga,
Selain dari kami pergi meninggalkan keluarga orang tua,istri dan anak - anak untuk berangkat tugas kami sebagai Prajurit juga harus siap untuk berpindah dari satu provinsi ke Provinsi lain, pada Oktober 2019 kami berpindah tugas ke kampung halaman Sumatra Barat dan anak - anak kembali beradaptasi dengan budaya dan bahasa daerah Minang kabau dari daerah Sumatra Utara otomatis tatanan bahasa dan nada bicara berbeda tapi mau tak mau anak - anak haru siap, selama di sana kami Alhamdulilah pada tahun 2021 di beri ALLAH kepercayaan untuk membesarkan 4 orang anak dengan lahirnya anak ke 4 putri ke 2 kami dan selang beberapa minggu kami di berikan lagi rezeki untuk alih golongan untuk melanjutkan sekolah Bintara Reguler dan meninggalkan keluarga lagi selama 5 bulan dan pada saat itu putri kami belum melihat siapa bapaknya dan setelah 5 bulan baru berjumpa lagi dan itu terulang lagi anak gak mau di gendong bapaknya, he,he dan oktober 2021 kami kembali pindah ke pulau jawa tepatnya di Ibu Kota Jakarta dan kami boyong keluarga kembali meninggalkan kampung halaman waluapun Ibu yang di kampung tinggal sendiri maunyak anaknya dinas di kampung biar dekat tetapi beliau paham kalau anaknya mengabdi pada Negara dan harus siap kemana saja berdinas. dalam prinsib kami biar makan apa adanya dan jauh yang penting tetap bersama - sama dengan anak - anak dan isteri dan kami pindah 1 kaluarga lagi ke jawa dan anak - anak akan beradap tasi lagi dengan bahasa dan cara pergaulan yang baru lagi itulah resiko jadi anak seorang Prajurit siap berkeliling Indonesia dan tau banyak budaya dan bahasa daerah lain.
Disini kami berbagi kepada kawan - kawan sesama Prajurit kalau kita harus siap dimanapun di tempatkan dan jangan pernah mengeluh dan usahakan kalau pindah tugas ke kota manapun ajak serta Isteri dan anak - anak karena merekalah pengobat lelah kita jika kita jauh dari mereka akan mengurangi moril dan bakal ada beban pikiran selama dalam kedinasan sehari - hari.
DINAMIKA KEHIDUPAN ISTRI PRAJURIT TNI AD YANG TINGGAL DI ASRAMA MILITER
Perspektif Feminis
Abstract
Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman perempuan sebagai istri prajurit TNI AD, khususnya yang tinggal di asrama militer di Indonesia. Artikel ini menggunakan penelitian terdahulu untuk mengkaji mengenai pengalaman perempuan sebagai istri prajurit TNI AD dengan berbagai dinamika kehidupan di lingkungan asrama militer, serta bagaimana kiprahnya di dalam organisasi Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) sebagai wadah berkumpulnya para istri prajurit TNI AD. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tulisan ini menerapkan gagasan tentang konstruksi sosial oleh feminis eksistensialis Simone de Beauvoir dalam melihat permasalahan perempuan sebagai istri prajurit TNI AD. Selain itu, teori antropologi feminis Henrietta Moore juga melihat hubungan antara perempuan, asosiasi perempuan dan negara yang relevan dengan kondisi istri prajurit TNI AD yang tergabung di dalam organisasi Persit KCK sebagai organisasi sipil ekstra struktural TNI AD yang peran dan fungsinya turut dipenguhi oleh institusi TNI AD. Adapun hasil dari penelusuran penelitian terdahulu ini didapati bahwa perempuan sebagai istri prajurit TNI AD memiliki pengalaman yang kompleks disebabkan oleh multi peran yang dirasakan sebagai individu, istri dan ibu sekaligus sebagai anggota Persit KCK, terutama bagi mereka yang tinggal di asrama militer dengan berbagai aturan dan keterbatasannya.
Komentar
Posting Komentar